“AKU” Akan Menyertaimu

Sewaktu aku lulus dari bangku kuliah, aku memasuki fase hidup selanjutnya, yaitu mencari pekerjaan. Dimana aku harus bekerja? Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan panggilan pekerjaan? Bagaimana caranya melamar pekerjaan? Bagaimana nanti kalau aku tidak mendapatkan pekerjaan? Keraguan, kecemasan, dan gelisah yang berlalu-lalang menghantuiku sepanjang hari. 

Aku teringat pada satu kisah yang menarik di Perjanjian Lama, sewaktu Tuhan memimpin bangsa Israel untuk membebaskannya keluar dari tanah Mesir. Aku terpaku dan terpana pada penyertaan-Nya. Pada hal-hal yang Ia lakukan untuk membebaskan bangsa Israel. Untuk tulah-tulah yang diberikan. Untuk setiap tanda yang menjadi penyertaan Tuhan pada Musa. Aku teringat satu ayat, “Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” – Yosua 1:5

Satu ayat yang aku pegang teguh pada saat itu. Seperti Tuhan yang menyertai Musa membebaskan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, seperti itu pulalah Tuhan akan menyertai hidupku.

Hari demi hari berlalu, aku tanamkan dihatiku bahwa Tuhan selalu menyertai setiap langkah hidupku. Dalam ketidakpastian, dalam kehancuran, dalam titik rendah, dan dalam semua hal yang ku ragukan. Tuhan selalu menyertai. Sampai akhirnya Tuhan memberikanku sebuah pekerjaan yang teramat baik dalam hidupku. Sampai aku merasa pekerjaan ini sangatlah indah untuk aku lakukan.

Aku bersyukur, Tuhan. Aku tau semua hal yang aku miliki sampai detik ini adalah pemberian-Nya dan aku akan melakukan sebaik mungkin apa yang bisa aku lakukan untuk menyenangkan-Nya. Dengan itu aku memahami bahwa Tuhan memenuhi segala hal yang menjadi kebutuhanku walaupun mungkin aku belum tau kapan Ia akan memenuhinya, tapi aku percaya bahwa, “Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.” – Yosua 21:45

Kadang disaat titik terendah dalam hidup, kita suka lupa kalau Tuhan ada. Kadang kita suka meragukan Tuhan ketika Tuhan sepertinya diam dan tidak melakukan apa-apa. Bahkan kita marah dan memaki Tuhan ketika hal yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita terluka dan mungkin tidak mempercayai lagi kehadiran Tuhan dan bertanya, dimana Tuhan? Aku tidak merasakan kehadiran-Nya dalam susahku. Satu hal yang perlu kita yakini adalah, waktu Tuhan bukan waktu kita. Mungkin kita harus melewati badai, angin, panas, dan pahitnya hidup. Tapi percayalah, pikiran kita terbatas. Pikiran kita belum tentu pikiran-Nya. Tuhan adalah TUHAN. The Omnipotent, Omnipresent, and Omniscient. Melalui semua itu seharusnya kita sungguh-sungguh mempercayai Tuhan kalau Ia berkuasa dalam mengkontrol segalanya dengan maksud dan tujuan-Nya yang mendatangkan kebaikan bagi anak-Nya. 

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” - Yesaya 55:8-9

Kita perlu duduk diam dan melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup kita. Kadang ada beberapa hal yang hanya perlu diletakkan dalam tangan-Nya. Semua keinginan, harapan, dan cita-cita. Karena terlalu lelah mengejarnya sendiri dan mengandalkan kekuatan sendiri, kita perlu meletakkan itu semua pada-Nya dan duduk diam melihat bagaimana Dia yang sangat berkuasa dalam hidup ini melakukan pekerjaan-Nya untuk kebaikan kita.

“Just relax and watch what I do. When He says be strong and very courageous, remember this: Holy, Almighty, Omnipotent, Omniscient, Omnipresent God knows exactly what He’s going to do” – Dr. Charles Stanley

Hanya kuatkanlah diri kita dan beranilah. Karena Dia tau apa yang sedang Ia lakukan.