Ada satu hal yang kupelajari dalam hidup. Sebuah jurus kehidupan paling ampuh untuk kesehatan jiwa dan raga yang mungkin jarang diketahui atau didengar apalagi dimaknai oleh banyak orang. Kisahnya seperti ini, dalam hidup kita sering sekali bertemu dengan banyak orang yang tidak menyenangi kita. Bayangkan orang yang baik saja masih ada aja yang gak suka, apalagi orang yang jahat. Kalau kita menemui seseorang atau bahkan beberapa orang yang tidak suka dengan kita, biasanya kita sering melakukan perlawanan, entah itu bertanya mengapa kamu tidak suka denganku, atau bertanya-tanya apa salahku sehingga dikau tidak menyenangiku, atau kalau yang paling jahat dan kejam, ketika ada seorang yang mengutarakan hal-hal yang negatif tentang kita apalagi kita tidak seperti itu atau bahkan memfitnah kita dan berkata tentang hal yang bukan-bukan atas nama kita. Kadang kita suka ingin meluruskan pemikiran mereka, kadang kita ingin membela diri, dan menunjukan pada mereka bahwa kita tidak seperti itu. Kita terbiasa untuk melakukan perlawanan, beradu argumen, resah dan gelisah merasa harga diri kita terancam dan nama baik kita tercoreng. Tapi, melalu tulisan ini ada satu hal yang ku pelajari tentang jurus kehidupan. Apa itu? “Diamlah”.
Kalau kita ada diposisi tersebut, tidak perlu repot-repot membela diri, tidak perlu bersusah payah meluruskan pandangan mereka tentang kita, tidak perlu capek-capek menunjukkan siapa diri kita yang sebenarnya dan apa yang kita miliki. Tidak perlu. Diam saja. Dan biarkan Alam, Bumi, dan Langit melakukan bagiannya. Aku sangat meyakini dan percaya dalam hidup kalau apa yang kita tabur akan kita tuai dikemudian hari, kalau kita menabur yang jahat, kita akan menuai yang jahat pula. Demikian juga dengan hal baik yang kita tabur, kita akan menabur juga hal-hal yang baik. Percayalah dengan hukum Alam tabur tuai tersebut, karena aku merasakannya dalam hidup.
Pernah suatu saat dulu, aku adalah salah satu orang yang suka dibully. Dulu, tidak ada satu hari pun pulang ke rumah tanpa menangis. Aku selalu menangis karena ada orang yang tidak senang denganku. Jahatnya bukan main orang itu. Apapun yang kulakukan selalu salah dimatanya, bahkan ketika aku tidak melakukan apapun dan hanya diam dia tetap jahat. Hal yang aku lakukan hanyalah menangis karena perih yang ku rasa. Tapi, untungnya aku bisa sabar menanggung dan menghadapi semuanya dengan baik. Sampai suatu waktu setelah 4 tahun tidak bertemu, orang tersebut mengirimkanku sebuah pesan permintaan maaf untuk semua hal yang sudah ia lakukan padaku, dan tentu saja dengan senyum sumeringah aku memaafkannya.
Kita tidak pernah tau 1 menit
kedepan, seminggu, sebulan, setahun, atau bahkan berpuluh-puluh tahun kedepan
yang akan kita hadapi nanti. Dan selama berjalannya hidup, selama itu pula
hal-hal yang kita lakukan atau kebaikan-kebaikan yang kita lakukan ‘menyertai’
kita. Begitu juga dengan hal yang jahat kita lakukan, hal itu pun akan
menghiasi kehidupan kita. Maka, sebisa apapun dalam hidup, lakukan lah semua
hal baik yang bisa kita lakukan dan bisa kita berikan. Walau kadang sebaik
apapun kita, tetap saja ada yang tidak suka. Tapi, kita tidak perlu marah atau
membencinya, diamkan saja. Dan biarkan Semesta mengambil peranannya.
Kadang aku juga menemukan banyak persoalan dan masalah-masalah hidup yang datang bertubi-tubi, khususnya di bulan Mei tahun ini menjelang aku ulang tahun. Ada saja masalah yang datang dimana-dimana berkeliaran bagaikan serangga yang hinggap ke kiri dan ke kanan, rasanya yaampun kenapa menjelang aku ulang tahun pedih sekali kurasa. Tapi mungkin, itulah cara Tuhan mendewasakan kita. Melalui setiap masalah-masalah dan persoalan-persoalan yang kita lalui dengan baik, kita bisa memiliki karakter yang tangguh untuk menghadapi kehidupan ini. Ketika menghadapinya mungkin terasa berat, dan bertanya-tanya kenapa ini bisa terjadi. Tapi, ketika semua berlalu, kita bisa belajar dari guru yang paling baik ini. Bahwa, mungkin ada beberapa hal yang perlu kita perbaiki dari pemikiran kita, ada beberapa hal yang perlu kita perbaiki dari perilaku kita, ada yang perlu kita ubah dari cara kita meresponi sesuatu. Kadang memang wadah kesabaran dan kebijaksanaan kita harus bisa selebar-lebarnya dan seluas-luasnya untuk tetap mau belajar menerima kesalahan dan memperbaiki keadaan. Dari masalah-masalah yang terjadi di bulan Mei ini, aku memetik satu hal penting, yaitu “jangan terlalu banyak meratap, jalani saja”. Kadang kita terlalu overthinking memikirkan sesuatu yang sebenarnya hanya buruk dipikiran kita saja. Karena kita terlalu sering memikirkannya dan mengkhawatirkannya kita jadi terperangkap pada atmosfir kegelisahan yang kita ciptakan sendiri di pikiran kita. Padahal, mungkin kenyataannya baik-baik saja. Semua baik-baik saja sebagaimana mestinya baik-baik saja. Hanya kita yang terlalu secara terus menerus memikirkannya, seolah-olah kenyataannya buruk padahal hanya pikiran kita yang berlebihan. Jadi aku belajar sekali untuk, ya sudah lah, yang sudah, sudah. Jangan terlalu banyak meratapi, jalani saja sambil minum boba.
Faktanya, begitulah kehidupan.
Walau ditengah-tengah banyak persoalan dan hal-hal buruk lainnya, tapi aku
berani memahami bahwa hidup itu indah. Tapi, kita perlu memaknai keindahan
hidup itu dengan baik. Bahwa, yang namanya indah itu tidak selalu hal-hal baik
yang datang, tidak selalu hal-hal yang menyenangkan terjadi. Pasti dan sudah
menjadi suatu hal yang sangat pasti, adanya dukacita, adanya kemarahan, adanya
perasaan tidak disukai, adanya hal-hal negatif yang terjadi, ada hal-hal buruk
yang pasti akan terjadi. Tapi, semua hanya sejauh mana kita bisa memandang dan
meresponi semuanya dengan baik dan bijaksana. Kadang, kita perlu membatasi
hal-hal yang tidak perlu kita pikirkan. Kita harus langsung mempangkas bayangan
atau imajinasi-imajinasi yang tidak perlu dan justru menenggelamkan kita dalam
kegalauan yang membuat kita benci dengan kehidupan. Seperti tulisanku
sebelumnya, kita perlu menggeser 1 derajat pemikiran kita, dan ketika
menggesernya semua mungkin terlihat baik sebagaimana baik adanya.
Satu hal juga yang ku tulis
akhir-akhir ini di media sosial bahwa manusia perlu sedikit ‘stres’ dalam
hidup, ‘stres’ itulah yang mendesaknya untuk keluar dari permasalahan, mencari
jalan keluar yang membuatnya memiliki langkah yang kuat dan nilai juang yang
tinggi untuk bisa berselancar dalam kehidupan. Aku bahkan sampai berpikir,
mungkin semestinya kita bersyukur dengan ‘masalah-masalah atau
persoalan-persoalan’ yang terjadi dalam hidup kita. Karena tanpa sadar, diri
kita yang ada pada saat ini adalah bentuk akumulasi dari setiap masalah atau
persoalan-persoalan yang kita hadapi setiap tahapnya, yang kita selesaikan
dengan baik, dan kita jalani dengan baik sampai kita bisa berada seperti
sekarang. Jadi, mungkin kita tidak perlu memandang masalah sebagai suatu hal
yang negatif. Karena melalui masalah-masalah itulah yang memecut dan memacu
kita untuk menjadi pribadi yang baik dan berkarakter yang baik. Aku selalu
memahami bahwa segala sesuatu sifatnya sementara, sebagaimana sehabis gelap
terbitlah terang, sehabis siang muncullah malam, begitu juga dalam hidup.
Ketika kita memiliki masalah, pasti masalah itu akan berlalu dan bisa dilewati,
habis itu muncul suatu kebahagiaan. Aku bahkan berpikir, ketika banyak
persoalan yang terjadi dalam hidup kita. Kita mesti memandang bahwa suatu hari
nanti semua akan berlalu dan berganti jadi pesta-pesta kebahagiaan yang tak
terduga dan tak terkira. Kiranya, kita terus diberikan pandangan yang positif
dan baik tentang segala sesuatu di bawah langit yang mungkin tidak sebaik kita.
Tapi, pandangan kita yang baik bisa mewarnai jalan kita menghadapi kehidupan
ini. Selamat memaknai keindahaan hidup.
