Pembelajaran Abad 21 menekankan 4 skills yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik, 4 skills tersebut adalah Communication, Creativity, Collaboration, Critical Thinking (4C). Pembelajaran di kelas harus mengoptimalkan peserta didik untuk memiliki ke-4 keterampilan tersebut. Keterampilan menarik yang ingin dibahas dalam artikel ini adalah Critical Thinking. Di dunia kerja, penting sekali bagi para pekerja untuk memiliki keterampilan berpikir kritis ini. Karena, yang digunakan dalam bekerja nanti bukan hanya semata-mata semua mata pelajaran dengan nilai 100 yang didapat peserta didik selama sekolah, tapi bagaimana cara mendapatkan nilai tersebut yang akan menentukan karakter peserta didik dalam menghadapi kehidupan selanjutnya, entah itu kehidupan semasa di kampus, semasa bekerja atau berelasi dengan orang lain. Maka, penting sekali menanamkan keterampilan-keterampilan tertentu pada peserta didik semasa sekolah terutama dalam hal berpikir.
Pola pikir itu
menentukan bagaimana kita akan bereaksi atau melakukan segala sesuatu dalam
hidup kita. Apa yang kita lakukan berasal dari apa yang kita pikirkan, apa yang
kita pikirkan berasal dari apa yang kita input dalam pikiran kita. Entah itu
apa yang kita dengarkan, apa yang kita tonton, apa yang kita lihat dan kita
baca itu memberi input dalam pikiran kita sehingga kita bisa melakukan sesuatu
yang baik ataupun yang buruk. Maka, penting sekali untuk memperhatikan apa yang
kita input dalam diri kita.
Di sekolah, penting sekali bagi seorang Guru untuk menanamkan keterampilan berpikir kritis. Masalahnya, bagaimana peserta didik bisa memiliki keterampilan berpikir kritis tersebut. Banyak yang mengasahnya dari soal-soal HOTS atau pertanyaan-pertanyaan analisis yang memacu peserta didik untuk memecahkan soal atau permasalahan yang ada. Soal HOTS dan pertanyaan analisis tersebut baik sekali untuk dijadikan latihan supaya pemikiran anak bisa berkembang untuk memecahkan soal tersebut. Tapi, dalam kehidupan ini. Peserta didik tidak selamanya menghadapi soal HOTS. Mereka akan menghadapi kehidupan yang jauh lebih sulit dari soal-soal HOTS yang ada. Jadi, penting sekali untuk menanamkan “Akar” dalam berpikir kritis.
“Akar” dalam berpikir kritis tersebut sesederhana pertanyaan “mengapa” yang selalu dipertanyakan ketika menghadapi sesuatu. “Mengapa bisa terjadi seperti itu?”, “Mengapa aku harus melakukan hal ini?”, “Mengapa ada teori gravitasi?”, “Mengapa anak itu bisa jatuh?”, “Mengapa rumus pH asam basa seperti itu?”.
Dengan kita sering menanamkan dalam diri peserta didik kata “mengapa”, mereka akan terbiasa mempertanyakan sesuatu yang akan mereka hadapi. Mengapa dia harus melakukan hal itu. Mengapa saya disuruh seperti ini, dan lain sebagainya. Itulah akar dari berpikir kritis yang perlu ditanamkan sedini mungkin pada peserta didik kita. Karena, mereka akan menghadapi banyak hal dalam hidupnya setelah mereka lulus nanti. Kita sering mendengar banyak peserta didik yang hanya pintar mendapatkan nilai 100 di sekolah tapi dalam pekerjaannya mereka hanya menuruti perintah-perintah dari bosnya yang seharusnya bisa dikritisi “mengapa” saya harus melakukan perintah ini dan perintah itu. Jadi, penting bagi kita sebagai guru untuk menanamkan “life skills” dalam pembelajaran agar mereka dibekali keterampilan untuk hidup dimasa-masa yang mungkin lebih sulit dari banyak soal-soal sulit yang mereka hadapi saat ini.
Sebagai guru, saya
melihat bahwa hidup peserta didik saya saat ini tidak hanya dalam pelajaran
kimia atau dalam jenjang SMA saja. Tapi suatu hari nanti dia pasti akan lulus
SMA, dia akan masuk kuliah atau bekerja. Jadi, kadang saya menanamkan
nilai-nilai tertentu yang saya pandang baik sebagai bekalnya nanti ketika sudah
lulus sekolah. Salah satu nilai tersebut adalah keterampilan untuk bertanya
“mengapa”. Di kelas, saya sering memacu peserta didik saya dengan pertanyaan
“mengapa”.
“Mengapa NaCl kalau dimasukkan ke air yang bersifat netral.. sifat air tersebut tetap netral?”, peserta didik menjawab: “karena NaCl campuran dari asam kuat dan basa kuat bu”, lalu saya tanyakan lagi, “mengapa kalau asam kuat dan basa kuat tercampur menghasilkan sifat yang netral?”, “karena sudah terionisasi sempurna bu”, “mengapa kalau kuat dia tidak bisa terhidrolisis, dan lain sebagainya”.
Pertanyaan mengapa
tersebut mengasah saya sendiri sebagai guru untuk berpikir kritis, untuk bisa
menemukan mengapa hal itu bisa terjadi. Sehingga, peserta didik mempunyai
jawaban yang otentik dari pertanyaan mengapa tersebut. Dan bukan hanya peserta
didik, bahkan saya sendiri pun sering sekali bertanya “mengapa” dalam setiap
materi yang saya ajarkan, karena menarik sekali ketika kita bisa mengetahui
“Akar” dari adanya sesuatu. Dan saya sebagai guru jadi terpacu untuk menemukan
jawaban dan belajar lagi untuk memberikan jawaban tersebut.
Saya pernah membaca buku yang berjudul “Man Search for Meaning by Victor E. Frankl”, buku tersebut mengkisahkan seorang psikiater yang berada dalam kamp konsentrasi para tentara Nazi dulu. Psikiater tersebut menemukan makna dalam hidup ketika dia menghadapi kehidupan di kamp konsentrasi tersebut, bagaimana para tentara bertahan dan berjuang dalam kamp tersebut. Lalu ada satu kutipan menarik dalam buku tersebut dari Friedrich Nietzsche ia mengatakan “Orang yang bertanya mengapa dalam hidup, hampir bisa menghadapi semua bagaimana”.
Lalu pikiran saya terbuka, dan ternyata memang betul. Akar dari berpikir kritis kita ada dalam kata “mengapa”. Dan ketika kita mempertanyakan “mengapa” kita hampir bisa menghadapai semua kata “bagaimana” dalam hidup. Ini adalah hal yang sangat menarik sekali yang saya pahami dalam hidup saya sendiri. Jadi ketika kita ingin tau bagaimana cara memecahkan sesuatu atau menghadapi sesuatu, kita harus terlebih dahulu bertanya “mengapa” tentang hal-hal tersebut. Itu adalah kunci dasar untuk menaklukan hidup ini.
Hidup yang akan dihadapi di depan sana nanti adalah hidup yang penuh dengan teka-teki, penuh dengan ketidakpastian, dan kepastian yang tidak pasti. Kita akan menghadapi banyak hal yang membingungkan dan banyak hal yang tidak bisa dipecahkan dengan akal kita sendiri. Namun, dengan menanamkan kata “mengapa”. Kita memiliki bekal yang cukup untuk bisa bertahan dalam gemerlapnya kehidupan di sana nanti.
Menjadi guru bukan
hanya sekedar mengajar materi yang dikuasai, tapi bisa juga menanamkan
nilai-nilai kehidupan yang mungkin jauh lebih penting dan berguna suatu hari
nanti lebih dari materi yang kita ajarkan. Maka, kalau kimia tidak bisa selalu
diingat oleh peserta didik suatu hari kelak. Setidaknya ada satu hal yang
diingat peserta didik suatu hari nanti, yaitu kata “mengapa” yang harus terus
menerus dipertanyakan dalam hidup ini.
