"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." ―Roma 12:2
Siapa yang
di rumah sering sekali mati lampu? Kalau sekarang ada lampu emergency yang
kalau mati lampu, lampu tersebut bisa tetap menyala. Tapi sebelum ada itu,
biasanya kita menggunakan lilin. Pernahkah kita mengamati lilin? Bagaimana cara
lilin itu menyala terang di saat rumah gelap gulita? Ketika kita menyalakan
lilin tentu saja kita akan membakar sumbu lilin tersebut kemudian lilin
tersebut menyala terang. Ada hal yang menarik tentang lilin, yaitu lilin itu
harus “membakar dirinya” kemudian ia bisa menyala terang. Seperti halnya hidup
ini, dunia yang sudah terpengaruh dosa sudah tidak layak menjadi tempat kita
menaruh pengharapan. Justru karena dunia yang sudah kacau ini, kita perlu
menjadi terang yang menyala di tengah gelap gulita kehidupan. Bagaimana
caranya? Seperti halnya lilin, kita harus “membakar diri” kita. Membakar diri
di sini berarti merelakan semua keinginan kita dan meninggalkan daging kita
untuk mengikuti dan melakukan kehendak-NYA. Ketika kita berusaha untuk
“membakar diri” kita, Tuhan pasti menuntun dengan baik asal kita mau
mendengarkan-NYA.
Membakar
diri tersebut bisa dilatih seiring pembaharuan akal kita, artinya pola pikir
kita dikonstruksi ulang menjadi pola pikir yang sesuai dengan perasaan dan
pikiran-NYA. Sulit yah kayaknya? Sulit banget bahkan hampir mustahil. Tapi
Tuhan selalu bilang tidak ada yang mustahil, kita akan terus dituntun-NYA. Maka
untuk menjadi pribadi yang menyala terang, kita perlu latihan “membakar diri”
kita, dimulai dari ayo kita komsel daripada main game atau ayo kita gak usah
dendam/marah-marah, mengampuni saja. Setiap hari kita pasti dihadapkan oleh
banyak hal yang akan melatihan akal budi kita sehingga kita bisa membedakan
manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang
sempurna.
