Hasil Belajar tentang: “Merdeka Belajar”

Di tahun lalu, saya mengikuti program Ayo Belajar Bersama yang diadakan oleh Kemendikbud pada platform Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian yang Berkelanjutan atau yang biasa disingkat, SIMPKB. Di laman tersebut ada bagian khusus untuk Guru Belajar, saya mengikuti program Guru Belajar pada Seri Guru Merdeka Belajar. Dalam program tersebut saya harus menyelesaikan tiap sesinya dengan tuntas. Setiap sesi tersebut dilengkapi dengan powerpoint pemaparan dari program tersebut dan diakhiri dengan kuis pada setiap sesinya. Ketika sudah menyelesaikan semua sesi pada program Guru Belajar tersebut, kita akan mendapatkan sertifikat yang bernilai 32-64 JP.

Nah, di bawah ini merupakan beberapa hal yang saya dapatkan dari hasil belajar tentang “Merdeka Belajar”. Saya mendapatkan banyak referensi dari powerpoint yang diberikan pada pembelajaran tersebut. Yuk, kita simak hasil belajar tentang: “Merdeka Belajar”.

Sistem Pendidikan di Indonesia saat ini mulai mengalami perubahan menjadi sebuah sistem yang bertemakan, “Merdeka Belajar”. Sebenarnya apa filosofi “Merdeka Belajar” yang dimaksud Mas Menteri kita saat ini?

Konsep “Merdeka Belajar” yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim beranjak dari filosofi Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara.

“Konsep Merdeka Belajar, filosofinya, anchor-nya filosofi Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara yaitu ini kalau semboyan yang selalu digaungkan adalah Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani. Yang di logo kita di Kemdikbud, Tut wuri handayani, ini merupakan hasil akhir atau proses yang kita inginkan dari belajar yang terjadi,” kata Dirjen GTK Kemendikbud Iwan Syahril pada webinar yang diselenggarakan P4TK TK PLB, Jumat (29/5/2020) (https://gtkdikmendiksus.kemdikbud.go.id/)

Ki Hajar Dewantara merupakan pahlawan Pendidikan Indonesia yang mendapat julukan sebagai Bapak Pendidikan. Melalui buah pemikirannya, Ki Hajar Dewantara berpendapat jika pendidikan adalah serangkaian proses untuk memanusiakan manusia (https://ditsmp.kemdikbud.go.id/).

Konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara didasarkan pada asas kemerdekaan. Asas kemerdekaan yang seperti apa?

Kemerdekaan yang dimaksud oleh Ki Hajar Dewantara memiliki arti bahwa manusia diberi kebebasan dari Tuhan yang Maha Esa untuk mengatur kehidupannya dengan tetap sejalan dengan aturan yang ada di masyarakat. Maka dari hal itu, diharapkan seorang peserta didik harus memiliki jiwa merdeka dalam artian merdeka secara lahir dan batin serta tenaganya.

Jiwa merdeka yang dimaksud Ki Hajar Dewantara adalah kemerdekaan sangat diperlukan sepanjang zaman agar bangsa Indonesia tidak didikte oleh negara lain. Ki Hajar Dewantara memiliki istilah sistem among, yakni melarang adanya hukuman dan paksaan kepada anak didik karena akan mematikan jiwa merdeka serta mematikan kreativitasnya (https://ditsmp.kemdikbud.go.id/).

Dalam ajaran Ki Hadjar Dewantara, kemerdekaan dalam pendidikan berarti :

(a) tidak hidup terperintah; (b) berdiri tegak karena kekuatan sendiri; (c) cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Tidak hidup terperintah berarti seseorang bisa menentukan sendiri arah tujuannya, memerintah diri sendiri. Poin kedua menekankan pada kemandirian seseorang, mencapai tujuan dengan daya upaya sendiri. Poin ketiga menekankan pada keterampilan mengatur hidup secara tertib (Sumber: Merdeka menurut KHD, https://sim-gurubelajar.simpkb.id/)

Spirit merdeka yang menjadi landasan pendidikan dari Bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantara bahwa seseorang yang merdeka adalah seseorang yang mampu memerintah dirinya sendiri. Lebih lanjut dijelaskan bahwa anak-anak hidup dengan kodratnya sendiri dan pendidik hanya bertugas untuk membantu menuntun tumbuh kodrat anak. Sehingga tujuan dari pendidikan menumbuhkan anak yang mandiri dalam belajar (Sumber: KHD dan Merdeka Belajar, https://sim-gurubelajar.simpkb.id/). 

Bagaimana anak bisa mandiri belajar? Konsep mandiri terhadap proses belajarnya sendiri  dijelaskan dalam konsep self regulated learning. Apa itu self regulated learning? Menurut Schunk (1996) self regulated learning mengarah pada kemampuan kita dan mengatur lingkungan belajar kita. Sehingga kita bisa mengatur tujuan, menetapkan strategi dan memantau perkembangan sesuai dengan tujuan kita (Sumber: KHD dan Merdeka Belajar, https://sim-gurubelajar.simpkb.id/).

Lebih lanjut Zimmerman (2000) menjelaskan salah satu komponen yang bisa menumbuhkan self regulated learning adalah efikasi diri dan motivasi intrinsik (dalam diri). Seseorang bisa menunjukkan secara percaya diri hasil belajar berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan yang didorong oleh motivasi dari dalam diri sehingga merasakan kepuasan dalam pencapaian belajar. Dari konsep self regulated learning yang dikembangkan oleh Zimmerman, penting menetapkan tujuan sehingga seseorang bisa mengukur kemampuan diri berdasarkan nilai diri dan kemampuan berpikir. Untuk mencapai murid merdeka ada tiga komponen penting yang perlu dilakukan guru di kelas yaitu melibatkan murid dalam menentukan tujuan, memberikan pilihan cara dan mengajak murid untuk melakukan refleksi (Sumber: KHD dan Merdeka Belajar, https://sim-gurubelajar.simpkb.id/).

Melihat berbagai hal tersebut tentunya sesuai dengan program pendidikan yang diusung Indonesia saat ini, yakni sebuah program kebijakan Merdeka Belajar. Merdeka Belajar adalah program kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim.

Esensi kemerdekaan berpikir harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Merdeka Belajar diharapkan dapat memperbaiki proses belajar mengajar agar dapat berdampak baik dalam aspek kehidupan. Mulai dari aspek fisik, mental, jasmani dan rohani dalam dunia Pendidikan (https://ditsmp.kemdikbud.go.id/).

Lalu, bagaimana konsep Merdeka Belajar yang ingin diterapkan?

Merdeka Belajar adalah belajar yang diatur sendiri oleh pelajar. Pelajar yang  menentukan tujuan, cara dan penilaian belajarnya. Dari sudut pandang pengajar,  merdeka belajar berarti belajar yang melibatkan murid dalam penentuan tujuan,  memberi pilihan cara, dan melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar (Sumber: Konsep Guru Merdeka Belajar, https://sim-gurubelajar.simpkb.id/)

Merdeka belajar berarti, belajar yang melibatkan murid dalam penentuan tujuan,  merdeka untuk memberi pilihan cara, dan melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar.

Belajar bukan untuk ujian, tapi untuk mencapai tujuan belajar yang bermakna. Belajar bukan dikendalikan pengajar, tapi disepakati bersama antara pengajar dan pelajar. Belajar bukan dengan cara yang seragam, tapi ada diferensiasi cara belajar. Belajar bukan hanya menghafal rumus, tapi menalar dan menyelesaikan persoalan. Belajar bukan untuk dinilai pengajar, tapi dinilai bersama untuk membangun kesadaran. Belajar bukan dinilai oleh besarnya angka, tapi oleh karya yang bermakna (Sumber: Konsep Guru Merdeka Belajar, https://sim-gurubelajar.simpkb.id/).

Sebenarnya apa yang seharusnya guru lakukan dalam konsep Merdeka Belajar ini? Bagaimana peran guru dalam mengimplementasikan Merdeka Belajar?

Guru Merdeka Belajar adalah guru yang senantiasa berefleksi untuk menyesuaikan pemikiran dan perbuatannya terhadap perubahan dalam upaya mencapai tujuan.

Apa tujuannya?

Komitmen pada tujuan yang dimaksud yaitu, melakukan praktik yang membuatnya sadar utuh terhadap pembelajaran yang esensial, memahami dan memprioritaskan murid sebagai subjek dalam pembelajaran, menetapkan tujuan dan target yang menantang tapi realistis dicapai dalam pembelajaran dan pengembangan diri (Sumber: Konsep Guru Merdeka Belajar, https://sim-gurubelajar.simpkb.id/). 

Guru Merdeka Belajar juga harus berperan secara mandiri dalam merancang pembelajaran berdasarkan kebutuhan dan kesiapan murid, mencari cara yang efektif untuk mengatasi kesulitan yang ditemui pada pembelajaran murid, mengikuti kegiatan (berkomunitas, berbagi, pelatihan, coaching dll) untuk melakukan pengembangan diri. Selain itu, mengadakan refleksi berkala seperti, membuat catatan reflektif harian untuk mengenal apa yang sudah efektif dan apa  yang perlu diperbaiki, meminta umpan balik dari rekan guru, kepala sekolah/madrasah untuk memperbaiki pembelajaran, menindaklanjuti hasil refleksi dan umpan balik pada rencana pembelajaran pengembangan.

Nah, inilah hasil belajar saya di SIMPKB seri Guru Merdeka Belajar. Semoga bermanfaat dan bisa menginspirasi untuk ikut bergabung dalam program “Ayo belajar bersama” di laman SIMPKB.


Explore Florist Ideas For Next Yeary

1%
Wild Flowers
1%
Meadow
1%
Exotic Flowers
demand

flower types

Our showroom is an expression of what we love doing; being creative with floral and plant arrangements. Whether you are looking for a florist for your perfect wedding, or just want to uplift any room with some one of a kind living decor, Blossom With Love can help.