Mematahkan Pensil-Pensil Karakter

Siapakah di antara kita yang senang dengan dunia filsafat? Aku menjadi salah satu manusia yang gemar sekali dengan bacaan beraroma filosofi atau filsafat. Bagiku menyenangkan sekali memahami segala sesuatu secara dalam. Menelusuri seluk-beluk dunia berpikir dan memahami bagaimana realitas dunia ini bekerja adalah hal yang sangat menarik. Bagiku, hidup seseorang didasari oleh “filosofi-filosofi” yang terbentuk dalam pikirannya, filosofi tersebut bisa berasal darimana saja tergantung apa yang “diinput” ke dalam pikirannya melalui hal yang ia baca, ia lihat, dan ia dengar. Akumulasi dari hal-hal yang terlihat dan terdengar bisa membentuk “jalur-jalur” berpikir yang baru atau “jalur-jalur” berpikir yang semakin tebal.

Beberapa waktu belakangan lalu aku membaca buku dengan judul, “Merleau-Ponty dan Kebertubuhan Manusia”. Pertama kali aku membaca judulnya terlihat asing sekali bagiku, namun buku ini ada di koridor filsafat yang memacu pikiranku untuk menelisik buku ini, “apa itu kebertubuhan manusia?” dan “siapa itu Merleau-Ponty?” 

Merleau-Ponty dengan nama lengkap, Maurice Merleau-Ponty adalah seorang filsuf fenomenologi, "kesadaran" abad 20. Hmm, menarik bagiku untuk menjelajahi teka-teki selanjutnya yaitu “fenomenologi.” Apa ya fenomenologi itu? Istilah ‘fenomenologi’ digunakan untuk menunjuk pada objek utama, yaitu ‘fenomen’ (phainomenon) yang dalam Bahasa Yunani berarti ‘penampakan’ (appearance). Penampakan yang dimaksudkan di sini menyangkut bagaimana objek menampakkan diri kepada kita (our consciousness) (Merleu-Ponty-Kebertubuhan Manusia, 2020). Misalnya, pertemuan dengan orang tertentu mungkin membuahkan rasa gembira, dan ingatan akan orang tersebut (atau ‘penampakan’ orang tersebut dalam kesadaran kita) membuat kita berharap akan segera bertemu lagi dengannya. Nah, dalam sudut pandang fenomenologi objek yang difokuskan itu bukan berada pada benda-benda dalam dunia sebagaimana dilakukan dalam sains, tapi fenomenologi terpusat pada kesadaran manusia (human consciousness) karena dalam kesadaran inilah objek-objek menampakkan diri (Merleu-Ponty-Kebertubuhan Manusia, 2020). Menurut Merleau-Ponty, manusia adalah pengada bertubuh (an embodied being), dan pengetahuan yang diperoleh manusia tidaklah dapat dilepaskan dari keberadaan tubuhnya dalam ruang dan waktu.

Hidup sebagai pengada bertubuh menurut Merleu-Ponty berarti memiliki berbagai keterbatasan, termasuk hanya mampu mempersepsikan objek dari tempat di mana kita berada. Hal ini berarti bahwa pengetahuan kita selalu bermulai dari perspektif tertentu, bukan tanpa perspektif seperti yang biasanya kita pahami. Bagi Merleu-Ponty, tugas fenomenologi adalah menggambarkan struktur-struktur dasar pengalaman manusia dan memahaminya dari perspektif konkret orang pertama, bukan dari perspektif reflektif orang ketiga sebagaimana kita temukan dalam pengetahuan ilmiah atau pandangan umum. Menggali pandangan orang pertama berarti membiarkan orang tersebut mengungkapkan apa yang dialaminya secara langsung tanpa dinilai dari sudut objektivitasnya (Merleu-Ponty-Kebertubuhan Manusia, 2020).

Merleau-Ponty menggunakan konsep-konsep dasar yang diletakkan oleh Husserl dalam fenomenologi. Salah satu konsep ini adalah intensionalitas. Istilah ini berasal dari Bahasa Latin intend yang berarti ‘mengarah atau menunjuk pada’ (to aim or point at). Maksudnya adalah bahwa kesadaran manusia (human consciousness) tidak pernah kosong begitu saja, melainkan selalu terarah atau ‘menunjuk’ pada objek tertentu. Ketika kita merasa cemas, misalnya, kesadaran kita terarah pada hal tertentu yang sedang kita cemaskan (disebut ‘objek kecemasan’) seperti pekerjaan atau relasi pribadi (Merleu-Ponty-Kebertubuhan Manusia, 2020).

Dalam pandangan Merleau-Ponty, pemikiran objektif sering mengabaikan ‘lingkungan’ (milieu) yang kompleks dan ambigu tempat makna manusiawi mengungkapkan dirinya. Maka, Merleau-Ponty berpendapat bahwa filsafat sesungguhnya harus melawan pemikiran objektif dengan membangkitkan kembali langsung kita dengan dunia, kita harus melihat lingkungan dan hal-hal yang “diinput” ke dalam diri seseorang ketika kita melihat suatu permasalahan dalam diri orang tersebut. Merleau-Ponty lebih lanjut berpendapat bahwa refleksi filosofis yang dilakukan dengan cara demikian menyingkapkan sejumlah kebenaran penting dan fundamental mengenai hakikat situasi kita dan akar rasionalitas manusia. Dalam pemikiran Merleau-Ponty, manusia disingkapkan dalam refleksi radikal sebagai ‘ada-dalam-dunia’ (being-in-the-world) dan karena itu, persepsi manusia merupakan keterlibatan aktif dalam dunia yang merupakan bagian dari dirinya, bukan kontemplasi tanpa ikatan (detached contemplation).

Lebih lanjut, Merleau-Ponty menyusuri sudut “Persepsi”, entah disadari atau tidak, persepsi merupakan kegiatan mendasar dalam kehidupan manusia. Hal ini bisa kita lihat dalam ungkapan, “pandangamu tentang kehidupan kok aneh sih? Atau “rumah itu tampak lebih mewah dan menarik dibandingkan dengan rumah-rumah lain di sekitarnya.” Kita juga biasa mendengar atau berbicara mengenai bias atau pandangan sepihak terhadap orang atau hal tertentu, Menurut Merleau-Ponty secara empirisme persepsi menggambarkan pengalaman nyata manusia karena hal yang kita temui dalam pengalaman sehari-hari itu bukanlah sensasi ini atau itu (disebut ‘sensasi internal’), melainkan objek, orang, tempat, atau peristiwa. Yang kita alami bukan warna merah pada baju, melainkan baju yang kebetulan bewarna merah (dan yang sedang dipakai oleh orang tertentu). Demikian pula, yang kita alami sehari-hari bukanlah ‘rasa sakit’ pada wajah rekan kerja kita, melainkan rekan kerja kita yang kebetulan memperlihatkan sensasi ‘rasa sakit’ pada wajahnya (Merleu-Ponty-Kebertubuhan Manusia, 2020).

Selain itu, Merleau-Ponty juga ingin menunjukkan bahwa kesadaran dan dunia bukan hanya saling melengkapi, melainkan saling tergantung satu sama lain. Karena itu, ia berpendapat bahwa semua hal atau benda yang kita alami dikonstitusikan dalam pengalaman kita mengenai hal-hal atau benda-benda tersebut (Merleu-Ponty-Kebertubuhan Manusia, 2020). Adanya keterkaitan dan keterikatan kita dengan semua hal atau benda membentuk sebuah persepsi yang kita miliki. Persepsi itu menentukan bagaimana kita merasa, berpikir, dan bertindak. Maka kita perlu menarik persepsi yang benar akan sesuatu hal.

Membaca buku Merleu-Ponty ini membuka wawasan aku bahwa ketika aku bertemu dengan seseorang atau permasalahan, aku bertemu dengan serangkaian peristiwa, pengalaman, kejadian yang membentuk seorang atau masalah tersebut. Dari situ aku bisa memahami bahwa sebenarnya aku berhadapan dengan banyak hal yang membentuk pribadi orang itu dan masalah itu yang membuat aku lebih bijak dalam memahami orang lain dan memahami masalah. 

Kadang ketika bertemu orang lain, aku selalu berpikir kalau orang itu harusnya begini lho, yang benar begini lho, jangan lakukan hal itu, lakukanlah hal yang ini, mengapa berpikir seperti itu, dan lain sebagainya. Tapi sekarang aku memahami bahwa orang lain tidak punya kehendak untuk membuat orang yang lain berlaku ini dan itu. Kadang aku berpikir mungkin yang terbaik adalah memahami dan menerima sejauh mana seseorang berpikir dan sejauh mana seseorang memahami sesuatu. Kadang banyak juga orang yang selalu mendikte orang dan merasa dirinya adalah orang yang benar, apa lagi kalau kita punya pasangan, sering banget kita menuntut atau dituntut menjadi seperti apa yang kita atau yang mereka mau. Padahal diri kita masing-masing terbentuk selama kita hidup saat ini. Kalau aku 26 tahun, maka diri aku saat ini adalah bentuk akumulasi serangkaian perjalanan hidup selama 26 tahun yang mungkin banyak hal juga yang masih kurang dan tidak baik.

Ibarat mematahkan 100 pensil secara bersamaan, begitu juga dengan karakter yang terbentuk sekian tahun kita hidup. Kita tidak bisa mengubah seseorang yang sudah terakumulasi sekian tahun hidupnya dengan mudah. Kita perlu meleraikan satu demi satu pensil dan mematahkannya, artinya untuk mematahkan karakter yang kurang baik, kita perlu mematahkannya satu demi satu, karakter apa yang masih tidak baik kita miliki saat ini? Kita patahkan satu, begitu seterusnya sampai karakter kita menjadi semakin baik. Atau mungkin aku berpikir juga bisa jadi, hidup kita saat ini tujuannya adalah mematahkan pensil-pensil karakter yang kurang baik terbentuk selama puluhan tahun kita hidup. 

Kita tidak bisa baik mendadak, kita juga tidak bisa jahat mendadak. Tapi setiap langkah hidup kita, kita bisa mengukir sejarah baru dalam diri kita masing-masing. Mengukir sejarah tidak harus menciptakan sebuah ilmu baru atau menjadi seorang nomor satu di suatu negara. Mengukir sejarah juga bisa berarti kita membuat perubahan bagi diri kita sendiri di setiap hari, di setiap langkah kita ke depan. Yuk, kita mematahkan pensil-pensil karakter dan mengukir sejarah baru di hidup kita.