Tuhan, Aku Mau Belajar Percaya

Suatu waktu Andi lulus dari bangku kuliah ternama, memiliki gelar sarjana, dengan IPK yang tidak main-main, dan juga predikat Cumlaude. Andi merasa bangga dengan apa yang sudah ia capai. Andi merasa bahwa tidaklah sulit untuk mencari pekerjaan dengan modal yang ia miliki. Hari berlalu sampai Andi wisuda, dengan banyak bunga cantik pemberian keluarga dan sahabat. Tiba saatnya Andi mulai mencari-cari pekerjaan. Dibukanya semua platfrom yang menyediakan lowongan pekerjaan. Setiap hari hampir 10 atau bahkan lebih perusahan yang Andi lamar. Hari demi hari berlalu, lalu Andi merasa resah karena sudah hampir satu bulan Andi melamar pekerjaan tapi tidak ada satupun yang memanggilnya untuk interview. Andi mulai gelisah dan murung, karena ia berpikir apa yang kurang dari yang ku miliki. “Aku lulusan kampus ternama, bergelar sarjana, IPK ku baik sekali, predikatku Cumlaude. Tapi mengapa aku tidak kunjung mendapatkan pekerjaan”.

Lalu, Andi bertemu dengan sahabatnya. Ia menceritakan apa yang ia rasakan dan pikirkan kepada sahabatnya. Kemudian sahabatnya dengan yakin bilang, “udah percaya aja, Tuhan pasti akan memberikan pekerjaan yang tepat di waktu yang tepat untukmu”. 

Sekilas apa yang dikatakan oleh sahabat Andi itu terkesan klasik, jawaban orang-orang pada umumnya, tapi ternyata perkataan itu benar-benar bermakna sekali. Seperti kisah Lazarus yang dibangkitkan. Lazarus yang merupakan saudara dari Maria dan Marta jatuh sakit. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus bahwa Lazarus yang dikasihinya sakit. Ketika Yesus mendengar kabar itu, Yesus berkata kalau penyakit itu tidak akan membawa kematian tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah. Namun, Yesus tidak segera datang menemui Lazarus dan Ia berkata bahwa Lazarus sudah mati. Lalu Yesus berkata, “tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya” - Yohanes 11:15 . Kemudian Yesus datang dan membangkitkan Lazarus yang sudah mati.

Kisah tentang Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus ini mengingatkan kita. Bahwa ada momen-momen tertentu dimana kita menganggap bahwa sepertinya Tuhan diam, Tuhan tidak memberikan jalan, Tuhan tidak membukakan pintu, Tuhan tidak peduli, dan Tuhan tidak mendengar. Seolah-olah seruan dan tangisan doa kita tiada dihiraukan-Nya. Tetapi, ternyata ada saat dimana Tuhan mengizinkan momen itu terjadi. Bukan karena Tuhan tidak baik, namun karena Ia mau mengajarkan pada kita untuk “belajar percaya” pada-Nya. Tuhan mau supaya kita benar-benar mengandalkan-Nya. Tuhan mau supaya kita menyerahkan diri kita agar kita bisa dibentuk, dirajut, dipahat, dan diubahkan sehingga ketika waktu-Nya tiba Tuhan dapat dipermuliakan dalam hidup kita melalui berkat-berkat yang Ia berikan.

Seperti seruan yang selalu kita dengar, “jangan khawatir, percaya saja” adalah perkataan Tuhan yang memang benar harus kita pahami, bahwa segala sesuatu di atur Tuhan baik. Bahwa segala sesuatu ada dalam penjagaan Tuhan yang maha baik. Tidak ada satu hal pun yang perlu kita khawatirkan dalam hidup karena Tuhan sendiri berkata bahwa rancangan-Nya tidak ada yang membawa celaka, bahwa segala sesuatu mendatangkan kebaikan dan damai sejahtera dalam hidup kita. 

Jadi, marilah kita dengan teguh meyakinkan diri kita sendiri untuk belajar mempercayai Tuhan dengan sungguh-sungguh.