Guru menjadi profesi
yang sangat menyenangkan sekaligus sangat menantang. Menyenangkan karena
berinteraksi dengan siswa, memahami karakter siswa, melihat serba-serbi
kehidupan siswa, menyampaikan materi kepada siswa dimana siswa tersebut menatap
dan memandang Guru di depan dengan penuh antusias dan keingintahuan yang
tinggi. Menantang karena untuk memberikan proses pembelajaran yang baik, Guru
harus menyiapkan perangkat pembelajaran, media pembelajaran, metode
pembelajaran yang baik sehingga Guru bisa memfasilitasi proses pembelajaran
dengan baik. Menjadi seorang Guru tentunya tidak mudah, banyak hal yang perlu
dipertahankan, diperbaiki, dan dikembangkan sehingga menjadi Guru adalah proses
belajar sepanjang hayat.
Dalam mempersiapkan proses pembelajaran yang baik, Guru harus memikirkan metode pembelajaran yang baik dan cocok diterapkan di kelas berdasarkan karakteristik dan kemampuan siswa. Dulu waktu saya kuliah, saya menyelesaikan tugas akhir yang berjudul, “Analisis Kemampuan Literasi Sains Peserta Didik Melalui Pembelajaran Kontekstual-Flipped Classroom Pada Materi Asam Basa”, tugas akhir saya tersebut membahas tentang kemampuan literasi sains siswa yang dilihat dari aspek konteks sains, pengetahuan sains, dan kompetensi ilmiah. Berdasarkan hasil studi PISA 2015, kemampuan literasi siswa di Indonesia masih rendah, Indonesia masih berada pada posisi ke 64 dari 72 negara dengan rata-rata nilai yang masih jauh di bawah standar Internasional, yaitu 500 (Balitbang, 2016).
Saya meneliti literasi
sains siswa di SMA Negeri 39 Jakarta pada Januari-Februari 2018. Dalam
penelitian tersebut, saya menggunakan metode pembelajaran yaitu pembelajaran
kontekstual-flipped classroom. Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil
penelitian John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa peserta didik akan belajar
dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui
dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi disekelilingnya. Sehingga
pembelajaran kontekstual dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang
berhubungan dengan suasana tertentu dalam proses belajar dan mengajar di
sekolah, sedangkan flipped classroom adalah model pembelajaran dimana materi
terlebih dahulu diberikan melalui video pembelajaran yang harus ditonton oleh
siswa di rumah masing-masing. Sebaliknya, saat sesi belajar di kelas siswa
fokus menerapkan konten dari video yang telah dilihat sebelumnya. Hal ini
dilakukan melalui kegiatan kelompok, diskusi tugas, pemecahan masalah secara
individu dan kegiatan belajar lain yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir
kritis siswa.
Dalam penelitian tersebut diperoleh hasil presentase penguasaan konteks dalam aspek konteks ilmiah sebesar 89,70% pada konteks personal, 82,23% pada konteks sosial, 79,57% pada konteks global sehingga total presentase penguasaan siswa dalam aspek konteks ilmiah sebesar 83,92%. Presentase penguasaan pengetahuan dalam aspek pengetahuan sains sebesar 89,68% pada pengetahuan penyelidikan ilmiah, 81,12% pada pengetahuan pemaparan/penjelasan ilmiah sehingga total presentase penguasaan siswa dalam aspek pengetahuan sebesar 84,36%. Presentase penguasaan kompetensi dalam aspek kompetensi ilmiah sebesar 88,12% pada kompetensi mengidentifikasi permasalahan ilmiah, 72,49% pada kompetensi menjelaskan dan memprediksi fenomena secara ilmiah, 91,83% pada kompetensi menggunakan bukti-bukti ilmiah sehingga total presentase penguasaan siswa dalam aspek kompetensi ilmiah sebesar 84,06%.
Penelitian dari tugas akhir saya memiliki kesempatan untuk dijadikan artikel dan diseminarkan di “International Conference of Chemistry (ICCHEM)” pada tahun 2018 dan dipublikasikan di Journal of Physics Conference Series dengan judul “Analysis of students’ scientific literacy in contextual-flipped classroom learning on acid-base topic”, jurnal tersebut sampai hari ini disitasi sebanyak 42 kali. Sebagai seorang pendidik saya merasa sangat bangga karena saya mampu berkontribusi lebih banyak dalam dunia pendidikan. Walaupun mempublikasi karya ilmiah dalam bentuk artikel yang kemudian dijurnalkan adalah tugas wajib seorang dosen, namun ketika saya menjadi Guru dan bisa melakukan hal tersebut menjadi hal yang sangat memuaskan hati dan membanggakan untuk saya dan juga institusi. Menurut saya, menjadi Guru adalah panggilan hidup. Menjadi Guru tidak hanya untuk menunaikan tugas-tugas Guru dan mendapatkan hasil dari pekerjaan tersebut. Menurut saya, menjadi Guru adalah ladang kehidupan yang sangat indah. Guru menjadi prototipe kehidupan yang teramati 24 jam 7 hari, sehingga membuat saya terus menerus memperhatikan setiap detail kehidupan saya karena Guru adalah seorang yang digugu dan ditiru. Tidak hanya itu, menjadi Guru adalah kesempatan untuk membentangkan pengetahuan seluas-luasnya, karena menjadi Guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Dengan tugas Guru dalam proses pembelajaran yang menantang, baik mempersiapkan perangkat pembelajaran dan menunaikan tugas-tugas Guru di sekolah, Guru juga memiliki kesempatan untuk berkontribusi lebih banyak dalam dunia pendidikan, salah satunya dengan melakukan penelitian di kelas.
Di era saat ini, pendidikan semakin
maju dengan adanya “Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian yang Berkelanjutan
(SIMPKB)” di Portal Pelayanan Program GTK Kemendikbud. Dari platform yang
disediakan tersebut menarik sekali untuk didalami dan tingkatkan pada
program-program yang cocok dengan kebutuhan seorang Guru. Saya sudah
beberapakali mengikuti bimtek kegiatan secara online dan mendapatkan sertifikat
32 sampai 64 JP, namun akhir-akhir ini dengan sistem yang baru agak sulit untuk
menyelesaikan program tersebut karena untuk mendapatkan hasil akhir harus
melakukan program aksi nyata, saya sudah pernah melakukannya di kelas namun
gagal disetujui. Sebenarnya pemerintah sudah memfasilitasi program-program yang
baik untuk diikuti oleh seorang Guru dalam mengembangkan dan meningkatkan
kemampuan profesi, namun bagi saya kurangnya waktu menjadi kendala saya untuk
memaksimalkan program tersebut.
Saya merasa beruntung menjadi Guru di era saat ini karena teknologi berkembang begitu pesat, adanya teknologi membantu saya dalam memaksimalkan proses pembelajaran dengan baik. Hal tersebut juga menjadi tantangan yang baru karena harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang sangat menggunakan dan membutuhkan teknologi. Saya senang dan bangga bisa terlahir menjadi seorang Guru. Saya begitu menikmati proses saya dalam menjalani profesi yang tidak mudah ini. Namun walaupun tidak mudah, saya mendapatkan banyak keindahan yang sangat menyentuh hati saya. Siswa-siswi menjadi amunisi semangat saya yang terutama, karenanya saya ingin terus melihat keindahan hidup yang terpancar dari matanya, semangat siswa-siswi dalam mencari ilmu, keriangan dan canda-tawa yang diberikan pada masa remajanya membuat saya menjadi semakin muda dan semakin riang.
Dalam hidup ini
tentunya tidak ada profesi atau pekerjaan yang mudah, pasti ada kelebihan dan
kelemahan, ada sukacita dan dukacita, ada tantangan dan kemudahan. Kiranya
sebagai Guru kita terus memotivasi diri kita untuk menjadi Guru yang lebih baik
dari hari ke hari, menjadi pribadi dan prototipe kehidupan yang lebih baik,
menjadi sosok yang digugu dan ditiru dengan baik, dengan semangat yang sama
seperti semangat siswa-siswi menjadikan kita semakin muda, riang, dan lincah
dalam menapaki kehidupan yang sangat indah ini. Hidup ini indah, menjadi guru
adalah hal yang paling indah didalamnya. Terima kasih karena sudah mau
mendidikasikan diri untuk menjadi seorang Guru.
"If there’s
anyone who is in a position to bring positive change into the world every day,
it's a teacher. Don’t ever think that your efforts as a teacher are
insignificant and make no difference. There is no telling what positive effect
you will have on someone’s life, especially a student’s. Be brave, stay
passionate about your kids and your work, and don’t give up - ever." –Ross Crockett
