Pada Sabtu 25 November 2023, Presiden Joko Widodo berpidato saat menghadiri acara peringatan ulang tahun ke-78 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sekaligus peringatan Hari Guru Nasional di Kelapa Gading, Jakarta. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui kaget bahwa guru merupakan profesi dengan tingkat stres yang tinggi dibandingkan dengan profesi-profesi lainnya. Hasil riset lembaga internasional di Rand Corporation tahun 2022 mengatakan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan guru mengalami stres, yakni tingkah laku murid, perubahan kurikulum, dan perkembangan teknologi. Jokowi mengatakan menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah dan ia pun berterima kasih atas jasa guru selama ini.[1]
Dalam kehidupan bekerja, tentu saja bekerja tidaklah mudah. Kehidupan tidak selalu mulus seperti jalan tol, selalu ada tantangan, selalu ada masalah, dan selalu ada tekanan yang didapatkan kapan pun dan dimana pun termasuk di tempat kerja. Banyak orang bilang, “dimana-mana bekerja memang begitu”. Dalam banyak bidang pekerjaan saat menerima karyawan baru sering mencantumkan pernyataan, “mampu bekerja di bawah tekanan”. Hal ini menyiratkan bahwa perusahaan maupun sektor pendidikan membutuhkan karyawan atau guru yang memiliki daya resiliensi yang baik. [2]
Sebenarnya
apa itu resiliensi? Istilah resiliensi
dikenalkan pertama kali pada 1950-an oleh Blok dengan nama
ego-resiliency (ER), yang diartikan sebagai kemampuan umum yang melibatkan
kemampuan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan
internal maupun eksternal. [3] Di dunia psikologi, resiliensi merupakan istilah
bangkit dari kegagalan. Resiliensi berasal dari bahasa latin re-silere yang
bermakna bangkit kembali (Connor & Davidson, 2003). Resiliensi juga sering
dikenal dengan “Ketangguhan”. Resiliensi merupakan kemampuan seseorang dalam
mengatasi, melalui, dan kembali pada kondisi semula setelah mengalami kejadian
yang menekan (Reivich & Shatte, 2002). Seperti bola basket, ketika jatuh ke
bawah, ‘resiliensi’ lah yang membantu bola bisa memantul naik, sama halnya
dengan diri kita, resiliensi lah yang membantu kita bisa bangun lagi setelah
jatuh. Resiliensi membantu kita lebih cepat pulih dari kegagalan ataupun
kekecewaan, membuat kita mampu melihat kesulitan hidup sebagai tantangan yang
menyenangkan, alih-alih menjadi beban justru menjadi layaknya sebuah
petualangan dan pembelajaran. [4]
Dalam hal ini, resiliensi adalah hal yang sangat dibutuhkan bagi seorang guru dan juga karyawan lainnya dalam menghadapi dunia kerja. Setiap hari dimana pun kita berada, di sektor lingkungan kerja mana pun kita akan menghadapi berbagai masalah dan mungkin hal tersebut tidak bisa terhindarkan. Masalah tersebut seringkali menimbulkan tekanan dalam diri kita yang membuat emosi kita bergejolak, seperti marah, menangis dan melakukan hal sebagai bentuk luapan emosi dari tekanan yang diberikan saat bekerja. Tetapi hal tersebut tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan ini dan itu lah kehidupan, maka memiliki kemampuan resiliensi yang baik untuk kembali pada kondisi semula setelah mengalami kejadian yang menekan perlu dikembangkan dan ditingkatkan dengan baik.
Dokter
anak Ken Ginsberg, MD dalam laman Very Well Mind mengatakan ada 7C yang harus
dikuasai agar bisa memiliki kepribadian ulet ini, yaitu Competence, Confidence,
Connection, Character, Contribution, Coping, dan Control. (1) Competence
(kompetensi): Membangun Dasar Keterampilan yang Kuat. Kompetensi merupakan
kemampuan seseorang dalam menghadapi situasi secara efektif dan solutif.
Kemampuan ini biasanya meliputi pengetahuan dan keterampilan di bidang tertentu
yang akan mempengaruhi seseorang menjadi lebih resilien. Untuk membangun
kompetensi dan meningkatkan resiliensi, kunci utamanya adalah belajar [5]. (2) Confidence
(keyakinan): Merawat Keyakinan Diri. Keyakinan adalah hal yang penting bagi
resiliensi. Memiliki keyakinan yang teguh pada kemampuan diri sendiri.
Kepercayaan yang mengatakan bahwa kita bisa mengatasi rintangan dan keyakinan
bahwa kita memiliki kekuatan untuk bertahan. Membangun kepercayaan diri
melibatkan mengakui dan merayakan prestasi-prestasi kita, mengakui kekuatan
kita, dan meredefinisi kegagalan sebagai pengalaman belajar yang berharga.
Dengan menetapkan tujuan yang realistis, merayakan kemenangan kecil, dan
membentuk citra diri yang positif, kita akan memperkuat resiliensi kita dan
menghadapi tantangan dengan keyakinan yang tak tergoyahkan [5]. Rasa percaya
diri tidak ada hubungannya dengan introvert atau ekstrovert; dan juga bukan
tinggi hati atau arogan. Percaya diri adalah ketika kita berani mengatakan:
"Saya tidak butuh validasi dan persetujuan siapa pun untuk maju, terbang
tinggi, dan berbahagia" [6]
(3) Connection (Koneksi): Memanfaatkan Kekuatan Jaringan Dukungan. Memiliki keterhubungan dengan orang lain, membangun dan mempertahankan hubungan yang suportif, baik secara individual maupun dengan kelompok. Banyak data penelitian ilmiah menunjukkan bahwa mereka yang memiliki koneksi keluarga dan / atau koneksi sosial yang baik; cenderung dapat lebih tenang, sabar, tabah, dan adaptif menghadapi berbagai ketidakmenentuan dalam hidup [6]. (4) Character (Karakter): Memeluk Nilai dan Integritas. Memiliki resiliensi berarti memiliki karakter yang kuat didasarkan pada etika dan integritas. Dengan berpegangan pada prinsip-prinsip seperti kejujuran, empati, dan ketekunan dapat mempertahankan resiliensi kita dan menghadapi situasi sulit dengan keanggunan dan martabat. Mengembangkan karakter yang kuat melibatkan introspeksi, memahami nilai-nilai inti diri kita, dan menyelaraskan tindakan kita dengan nilai-nilai tersebut, bahkan ketika dihadapkan pada kesulitan [5]. (5) Contribution (Kontribusi): Menemukan Arti dan Tujuan. Memiliki keterlibatan dalam kegiatan yang berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri (baik melalui relawan, membantu orang lain, atau mengejar passion) akan memperkuat resiliensi dengan penuh tujuan. Dengan fokus untuk membuat dampak positif bagi dunia, kita akan menemukan kekuatan dan motivasi baru untuk mengatasi rintangan dalam perjalanan kita [5].
(6) Coping (Koping): Mengembangkan Strategi Sehat untuk Menghadapi Tantangan. Melakukan teknik koping adalah hal yang penting untuk resiliensi, memungkinkan kita untuk mengelola stres dan kesulitan dengan efektif. Mengembangkan strategi koping yang sehat melibatkan teknik-teknik yang mendorong kesejahteraan emosional dan kekuatan mental, seperti olahraga, mindfulness, menulis jurnal, mencari terapi, atau terlibat dalam hobi yang memberikan kebahagiaan dan relaksasi [5]. (7) Control (Kontrol): Memahami Apa yang Dapat Kamu Pengaruhi. Resiliensi berbicara tentang hal yang bisa kita kendalikan dan hal yang tidak bisa kita kendalikan. Meskipun ada banyak keadaan di luar pengaruh kita, fokus pada apa yang dapat kita kendalikan memberikan kita kekuatan untuk merespons secara efektif dan memungkinkan kita mengarahkan energi dan sumber daya kita untuk menemukan solusi. Hal ini berkaitan tentang pola pikir yang kita miliki, menyesuaikan setiap tindakan kita, dan mencari alternatif ketika dihadapkan pada rintangan. Ketika kita memegang kontrol penuh atas pilihan, reaksi, dan keputusan kita, kita memperkuat resiliensi kita dan membangun dasar yang kokoh untuk menghadapi tantangan secara langsung.
7 resilience skill ini menjadi kualitas dasar yang memberdayakan kita untuk menghadapi tantangan kehidupan dengan kekuatan, adaptabilitas, dan pola pikir yang positif. Untuk menghadapi tingkat stres yang tinggi dan tidak terhindarkan, maka 7 resilience skill ini menjadi pilihan yang tepat untuk kita kembangkan dan tingkatkan terus menerus. Membangun resiliensi bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan perjalanan seumur hidup dan latihan terus menerus, introspeksi diri, dan komitmen untuk pertumbuhan pribadi. Melalui resiliensi, kita dapat menghadapi kompleksitas kehidupan, menghadapi kesulitan sebagai peluang pertumbuhan, dan muncul sebagai kita yang lebih kuat, bijaksana, dan penuh kasih.
Dengan
memiliki resiliensi yang kuat dan tinggi, kita tidak lagi takut dan pesimis
menghadapi kehidupan dan masalah, justru melihat tantangan sebagai peluang
untuk memajukan kita dan memaksimalkan potensi diri kita yang terbaik karena
melalui setiap masalah dan tantangan-lah kita bisa berkembang dan bertumbuh
menjadi pribadi yang kuat dan hebat dalam kapasitas kita masing-masing. Salam
resilien!
Referensi:
[2]https://careerclass.id/artikel/ulasan-buku/read/kunci-dalam-membangun-karir-resiliensi-mode-on
[3]https://psychology.binus.ac.id/2020/03/31/mengenal-resiliensi-dalam-ilmu-psikologi/
[4]https://binus.ac.id/binusian-journey/2022/10/17/sukses-berkarir-dengan-mengenal-resiliensi/
[5]https://www.naluri.life/id/community/articles/cara-meningkatkan-resiliensi-dengan-7-c
