Kekayaan dan Hatiku

Ketika masih kanak-kanak, kita dituntut untuk belajar sampai tingkat pendidikan tertentu. Ketika sudah dewasa, kita diminta untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri, ketika mungkin sudah berkeluarga, kita diharuskan untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Kita berusaha untuk melakukan yang terbaik dan memberikan yang terbaik semampu kita untuk mencukupi segala kebutuhan kita dan orang lain. Akhirnya, kita bekerja keras untuk mendapatkan banyak hal dalam hidup. Kita memiliki kekayaan, kemewahan, dan segala macam bentuk apresiasi lainnya. Tetapi, jangan sampai kita melupakan Tuhan ketika semua hal dalam hidup sudah kita capai. Semakin banyak harta yang kita miliki, semakin populer dan terkenalnya kita, semakin kita berada di atas puncak. Jangan sampai hati kita melekat dengan kekayaan dan kedudukan itu.

“Apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya” – Mazmur 62:11

Ketika mendapatkan semua hal yang ada di dunia ini, kita merasa cemas dengan memiliki banyak harta. Kita takut kalau kalau kita tidak bisa menjaga dan mempertahankannya. Tetapi, mungkin ada beberapa orang atau banyak orang yang dipenuhi kehidupan yang sederhana tapi memiliki kedamaian dalam hidupnya. Mengejar segala sesuatu di dunia ini tidak akan ada habisnya, mempunyai sifat adiktif yang memacu kita untuk berkeinginan lagi dan lagi, tapi belum tentu hidup kita penuh dengan kedamaian. Mungkin lain halnya dengan banyak orang yang menerima kehidupan dan menjalaninya bersama Tuhan, asal ada makanan dan pakaian sudah cukup. Kalau punya lebih sangat bersyukur, kalau tidak punya lebih bahkan tidak punya apa-apa ya tidak masalah karena kita menjalaninya bersama Tuhan yang memampukan kita untuk tetap bertahan menjalani hari demi hari.

“Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan Tuhan dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan” – Amsal 15:16

Ketika kita melihat rumput tetangga yang jauh lebih hijau, kadang kita berpikir untuk bisa memiliki warna hijau yang sama dengannya. Berandai kalau aku bisa seperti tetanggaku. Kalau aku bisa menikmati apa yang tetanggaku nikmati. Kadang kita suka menginginkan milik orang lain dan berusaha untuk merasakan nikmat yang orang lain nikmati.

“Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini” – Amsal 23:4

Dalam hidup, mungkin kita perlu menjadi orang yang kaya. Agar kita tidak menyusahkan orang lain, agar kita bisa mencukupi kebutuhan kita dan kebutuhan orang lain di sekitar kita. Bahkan kita harus punya power untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain. Dengan memiliki kekayaan tertentu kita bisa membantu orang lain. Tetapi, jangan sampai hati kita terikat dengan kekayaan itu dan membiarkan kekayaan itu melekat dalam hidup kita. Mestinya kekayaan kita hanya satu, yaitu memiliki Tuhan Yesus dalam hidup kita. 

Apalagi kalau kita berpura-pura menjadi orang yang kaya. Sakin kita ingin memiliki kehidupan seperti orang lain, kita bergaya dan memperlihatkan kemampuan yang kita miliki selayaknya orang kaya padahal mungkin kita tidak seperti itu. Kita bersusah payah dengan segala cara untuk ‘terlihat’ seperti orang kaya, agar bisa diterima atau diakui dilingkungan sosial. Dan mungkin aku juga menemukan beberapa orang yang penampilannya sederhana tetapi memiliki banyak kekayaan dalam hidupnya, ternyata hal ini pun diingatkan dalam firman-Nya:“Ada orang yang berlagak kaya, tetapi tidak mempunyai apa-apa, ada pula yang berpura-pura miskin, tetapi hartanya banyak.” – Amsal 13:7

Dalam hidup kita pun seringkali merasa perhitungan dengan apa yang kita miliki. Ketika ada yang membutuhkan, mungkin kita berpikir berulangkali untuk memberi. Kita mungkin menghemat dengan rinci setiap pemasukan dan pengeluaran kita. Padahal, ketika kita mampu memberi, Tuhan pasti akan memperhitungkan apa yang sudah kita beri. Kelak, Tuhan pasti akan memberikan yang lebih lagi untuk kita, sebab firman-Nya mengatakan: “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa namun selalu berkekurangan” – Amsal 11:24 

Jangan sampai berkat Tuhan yang berlimpah dalam hidup kita membuat kita merasa kekurangan karena kita tidak pandai untuk menikmati apa yang Tuhan sudah berikan.