Karena
itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan,
kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan
penyembahan berhala, (Kolose 3:5)
Dulu aku pernah mendapati seorang anak TK kecil yang ku ajar melakukan sesuatu yang menyenangkan sekali buatku. Ia masih kecil, berumur sekitar 5 tahun. Ia sedang belajar membaca dan mengenal angka. Suatu waktu, ia diberikan cemilan yang sudah disediakan untuknya dan untuku. Tapi, diam-diam ia ingin memberikan satu punyanya untukku. Jadi, ketika Bibinya sudah menutup pintu pergi meninggalkan kamar. Anak kecil itu langsung memberi satu kepunyaannya untukku. Aku ingat sekali bagaimana gerak dan geriknya saat ia ingin memberikan satu kepunyaannya untukku.
Hal yang sederhana seperti itu membuatku merasa kalau manusia masih bisa memikirkan orang lain. Bahkan anak kecil berumur 5 tahun sekalipun, sudah punya rasa ingin memberi sesuatu yang ia punya untuk orang lain. Hal yang ditanam sejak kecil itu, pasti akan berbuah manis saat ia dewasa nanti. Karena sejak kecil ia belajar untuk memperhatikan orang lain, ia belajar kalau walaupun dia punya sesuatu yang berbeda dan lebih untuk dirinya sendiri tapi ia ingin orang lain juga merasakan apa yang dia rasakan, ia belajar untuk tidak menikmatinya sendiri dan menginginkan orang lain juga menikmati sesuatu yang sama dengannya.
Maka,
kita perlu melihat orang lain. Apa yang bisa kita berikan ke orang lain,
berikanlah. Mungkin cuma seribu atau dua ribu bagi orang-orang dipinggir jalan,
atau tukang parkir, atau siapapun yang bisa kita berikan. Sekecil senyuman pun
bisa membuat orang lain bahagia. Hidup di dunia ini kita tidak bisa hanya
memikirkan diri kita sendiri, tapi orang lain pun perlu kita pikirkan. Sebisa
apapun, lakukanlah yang terbaik untuk orang lain. Berikanlah senyuman dan
sapaan yang ramah untuk orang lain, dan itu akan membuat kita merasa bahwa
hidup ini indah ketika kita bisa berbagi apa yang ada untuk orang lain.
