Membangun Relasi yang Baik

Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga harus menjual sebagian dari miliknya, maka seorang kaumnya yang berhak menebus, yakni kaumnya yang terdekat harus datang dan menebus yang telah dijual saudaranya itu. (Imamat 25:25)

Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Esensi manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya adalah kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya adalah kehidupan bersama, serta bagaimana tanggungjawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan (dosenpendidikan.com). Sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, tentunya kita pasti akan berelasi dengan orang lain. Kita berelasi untuk mengerjakan tugas kelompok bersama, kita berelasi belajar dengan guru, kita berelasi dengan orang tua atau saudara-saudara kita. Nah, dalam relasi itulah kita perlu membinanya dengan baik.

Kalau kita ada dalam lingkup sekolah atau kampus, relasi yang kita punya ada pada guru atau dosen dan juga teman-teman kita. Kita harus bisa membina relasi yang kita miliki dengan baik. Dulu sewaktu SMP, ada seorang teman yang membutuhkan dasi untuk sekolah. Tapi, ia tidak mampu untuk membeli dasi saat itu. Lalu, karena aku punya uang lebih aku membelikannya sebuah dasi. Itu sekitar 12 tahun yang lalu, ternyata temanku masih ingat tentang apa yang kulakukan itu dan ketika aku sudah tidak mengingatnya lagi. Kebaikan yang kita bangun sejak kecil ternyata bertumbuh baik sampai dewasa, kita jadi terbiasa ingin memberi dan melakukan yang terbaik untuk orang lain. Hal itu membuat relasi yang kita miliki dengan orang lain menjadi baik. Ketika kita memiliki relasi yang baik, kita jadi punya suatu kehidupan yang baik. Maka, dalam hidup gunakanlah kemampuan kita dan kelebihan kita untuk membangun relasi yang baik.