Berani Mengatakan yang Benar

Engkau telah melihat ketidakadilan terhadap aku, ya TUHAN; berikanlah keadilan!

(Ratapan 3:59)

Suatu waktu Andi sedang mengantri untuk membeli makanan, antrian tersebut lumayan panjang dan terdiri dari dua baris. Ketika sedang mengantri, ada anak muda yang sedang mengantri di sebelahnya bermain handphone, tiba-tiba seorang bapak paruh baya tiba-tiba masuk dan menyalip antrian anak muda itu. Lalu, Andi tidak bisa diam saja melihat kecurangan itu. Andi menegur bapak paruh baya itu untuk mengantri dari belakang dan anak muda itu maju dari barisannya.

Kadang kita perlu peka, dengan segala macam hal yang ada di sekitar kita. Bisa saja, hal buruk terjadi di sekitar kita dan hal yang negatif pun bisa terjadi. Kalau kita bisa menegur atau mengingatkan, kita perlu punya keberanian yang ekstra untuk bisa mengatakan kebenaran dan keadilannya. Jangan sampai kita hanya jadi penonton yang melihat kecurangan orang lain. Jangan sampai kita diam saja kalau ada orang yang dirugikan. Tapi, sebisa apapun kita harus mengatakannya dengan bahasa dan nada yang baik. Jangan malah menimbulkan masalah yang baru atau jadi suatu pertengkaran hebat. No. No. No. Kita harus juga jadi pembawa damai untuk sekitar kita. Kita harus tau apa yang kita lakukan dan apa yang orang lain lakukan. Jangan juga berprasangka yang bukan-bukan atau menuduh yang tidak-tidak. Kita perlu punya fakta dan data yang akurat untuk apa yang kita katakan, jangan sampai itu malah mencelakakan orang lain dan menimbulkan masalah baru. Yuk, saat ini kita belajar untuk lebih memperhatikan sekitar kita dan mempunyai keberanian untuk bisa mengatakan suatu hal yang benar dan adil berdasarkan apa yang kita ketahui dengan benar.