Di suatu pohon yang tinggi dan besar. Hiduplah seekor burung pipit kecil yang baru lahir. Burung pipit itu kecil, mungil, dan lucu sekali. Burung pipit mungil itu selalu berdampingan dengan ayah dan ibu burung pipit. Ayah dan ibu selalu mencarikan makanan untuk pertumbuhan burung pipit mungil. Hari demi hari berlalu, burung pipit yang mungil itu beranjak tumbuh menjadi lebih besar dan harus siap untuk belajar terbang.
Suatu saat burung pipit itu belajar untuk terbang bersama ibunya. Burung pipit itu berkata pada ibunya, "Ibu, aku takut jatuh. Pohon ini tinggi sekali" keluh burung pipit mungil melihat jauhnya tanah. "Kamu harus jatuh dulu, baru bisa belajar menepakkan sayapmu" sahut ibunya. “Tapi aku takut, Bu”, cemas burung pipit mungil. Lalu, ibunya berkata, “Tidak usah takut, kan ada ibu.” Lalu, burung pipit kecil itu dijatuhkan dari sarangnya. Selama jatuh, burung pipit itu belajar mengepakkan sayapnya dan setiap kali hampir mau jatuh ke dasar, ibu burung pipit menangkap burung pipit mungil itu dan mengulanginya dari atas sampai burung pipit kecil tersebut akhirnya bisa terbang dengan sendirinya.
Seperti burung pipit mungil yang sedang belajar untuk terbang. Begitulah juga hidup kita. Kadang kita harus jatuh berulang kali untuk bisa mengepakkan sayap kita di tengah dunia yang terlihat jauh sekali dari atas pohon. Kadang kita takut jatuh. Kita takut kalau tidak bisa. Kita takut kalau nanti kita gagal. Tapi sama halnya dengan burung pipit kecil itu. Burung pipit itu tidak sendirian, ada ibunya yang selalu siap menangkapnya ketika ia hampir jatuh ke dasar tanah. Ibunya selalu menjaga, mengawasi, dan melatih burung pipit supaya ia bisa terbang dengan baik.
Dalam kehidupan
kita, kita pun tidak hidup sendirian. Kita punya “Ibu Burung Pipit” dalam
kehidupan kita, yang selalu menjaga, melindungi, menopang, dan memberi kita
“makanan” untuk pertumbuhan kita. Dunia seolah-olah kejam dan menyakitkan kita
dengan berbagi masalah dalam hidup, padahal itulah jarak pohon burung pipit
mungil dan dasar tanah. Dimana kita harus melatih sayap kita untuk kuat, untuk
bertahan, untuk bahagia, dan untuk dewasa dalam hidup. Kita punya “Ibu Burung
Pipit” di dalam kehidupan kita dan “Ibu Burung Pipit” itu tidak akan pernah
meninggalkan kita dan tidak akan membuat kita jatuh sampai tergeletak.
