Pada masa beranjak dewasa, pastinya kita pernah mengalami suatu kondisi dimana hidup rasanya seperti mumet, semerawut, berantakan, dan habis tak keruan. Kita dihadapkan oleh banyak pilihan. Dari setiap pilihan tersebut kita menimbang konsekuensi yang mampu kita terima. Tapi, saat kita menimbang konsekuensi tersebut kita di buat bingung dengan pertimbangan-pertimbangan kita sendiri. Sebenarnya pertimbangan seperti apa yang perlu kita pikirkan? Lalu, ada juga hal-hal diluar diri kita yang kadang suka mengusik batin kita. Misal, opini orang lain tentang diri kita. Ketika kita melakukan sesuatu, biasanya selalu ada banyak orang yang mengomentari sesuatu yang kita lakukan. Orang bilang namanya "julid", bahkan kadang bukan cuma omongan aja yang bisa "julid", matapun kadang suka menatap sinis alias "julid". Jaman sekarang banyak hal yang mulai kebalik-balik, yang salah jadi benar, yang benar bukannya benar malah salah, dan lain sebagainya yang sejenis itu. Maka, kadang banyak orang yang ragu untuk melakukan kebaikan karena setiap kita melakukan kebaikan, selalu saja ada orang yang memandang itu adalah hal yang tidak baik. Tapi, namanya juga orang. Orang kan jumlahnya miliyaran di bumi. Masa iya, kita mikirin setiap opini dari "bermiliyaran" orang di dunia? Kan gak mungkin.
Aku juga dengar orang disekitarku yang ingin sekali berkarya. Tapi ia ragu untuk mempublish karyanya di media sosial, karena ia berpikir kalau karyanya mungkin tidak bagus untuk di baca atau tidak banyak orang yang tertarik dengan karyanya. Nah, gimana tuh? Belum melakukan sesuatu sudah berpikir kalau "tidak" (tidak bagus atau tidak menarik), padahal siapa yang tau kata "tidak" itu ada atau tidak nantinya? Jadi, kadang kita ditenggelamkan dengan pikiran kita sendiri sehingga kita tidak melakukan apa-apa karena pikiran-pikiran kita sendiri. Maka, aku berpikir bahwa "pikiran" itu penting ya. Segala sesuatu bisa terjadi karena "pikiran-pikiran" kita, karena apa yang kita pikirkan bisa menghasilkan suatu tindakan entah itu hal yang baik ataupun hal yang buruk, maka kita perlu memperhatikan apa yang kita pikirkan. Kalau segala sesuatu itu berasal dari pikiran, maka kita perlu memahami pikiran seperti apa yang perlu kita pikirkan.
Di buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, yang mengkisahkan tentang filosofi dari Stoisisme mengemukakan bahwa adanya "dikotomi kendali" dalam kehidupan ini. Apa itu "dikotomi kendali"? Menurut filosofi stoisisme, dalam hidup ini ada beberapa hal yang berada dalam kendali kita dan juga ada beberapa hal yang berada di luar kendali kita. Apa saja beberapa hal yang berada di dalam kendali kita? Pikiran dan respon kita terhadap sesuatu berada dalam kendali kita, sedangkan opini orang lain berada di luar kendali kita. Jadi, kalau kita berhadapan pada sesuatu hal dalam hidup, kita perlu memikirkan apakah hal ini berada dalam kendali kita atau tidak. Kalau tidak berada dalam kendali kita, ya sudah tidak perlu terlalu banyak menaruh perhatian pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Sebaliknya, kita perlu memfokuskan diri kita pada hal yang bisa kita maksimalkan dan kita kendalikan. Tindakan tersebut memfilter hal-hal yang perlu kita pikirkan atau tidak sehingga kita tidak terbebani dan merasa hidup sulit dan menjengkelkan karena mungkin semua hanya ada dalam pikiran kita saja.
Kalau kita bisa fokus pada hal-hal yang
menjadi kendali kita, kita bisa memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan
sehingga kita menghasilkan suatu hal yang baik. Tapi, kalau kita hanya fokus
pada opini orang lain, bagaimana nanti kalau orang lain berpikir seperti ini,
apa kata orang nanti kalau kita seperti ini, orang lain suka atau tidak, kita
hanya hanyut pada pikiran-pikiran kita sendiri yang tidak ada kontribusinya
untuk kemajuan kita, bahkan justru membuat langkah kita jadi terhambat atau
bahkan tidak melangkah. Semakin dewasa kita menjalani hidup, kita akan bertemu
dengan banyak perkara yang menyita perhatian dan pikiran kita. Kalau kita hanya
berpikir seperti apa yang kita pikirkan sekarang, kita tidak kuat untuk
menjalani kehidupan yang kadang suka banget ingin bermain dengan kita. Maka,
kita perlu menambahkan satu pikiran bahwa ada beberapa hal yang sebenarnya
bukan menjadi bagian kita atau kendali kita sehingga kita tidak perlu hanyut
terbawa oleh pikiran-pikiran tersebut. "Tapi, kadang hal itu masuk aja
gitu dipikiran kita, kita suka aja khawatir dengan hal-hal itu." Kalau
kita masih memikirkan "sesuatu" secara terus menerus dalam pikiran
kita, bisa jadi hal itu adalah hal yang penting dalam pikiran kita. Namun,
kalau kita merasa apa yang kita pikirkan secara terus menerus itu tidak penting
dan masih kita pikirkan berarti kita masih menyediakan waktu dan kapasitas
untuk memikirkan hal tersebut.
Kalau kita bertanya, bagaimana caranya untuk tidak memikirkan sesuatu yang tidak penting? Menurutku, dengan tidak menyediakan waktu dan kapasitas untuk memikirkan hal tersebut. Habiskan waktu kita untuk memikirkan dan melakukan sesuatu yang lain, ubahlah kapasitas kita memikirkan sesuatu itu dengan memikirkan dan melakukan sesuatu yang lain sehingga kita tidak memiliki waktu dan kapasitas untuk memikirkan hal yang tidak perlu kita pikirkan. Mungkin ada lagi satu cara untuk menyelidiki bagaimana caranya agar kita tidak memikirkan sesuatu yang tidak penting. Kita perlu menyelidiki, biasanya kita memikirkan sesuatu yang tidak penting itu ketika kita sedang melakukan apa ya? Misalnya ketika sedang tidur-tiduran, nah ubahlah kebiasaan tidur-tiduran itu dengan hal yang lain sehinga kita tidak punya waktu untuk memikirkan hal tersebut, atau ketika sedang melamun, nah pakailah waktu untuk melamun dengan membaca buku atau kegiatan yang lainnya.
Aku sangat terkesima dengan kehidupan, bagiku hidup ini menarik sekali. Segala sesuatu yang ada di bawah langit memiliki berjuta macam teori yang sudah ada sebelumnya, hanya kadang kita tidak mengerti teori-teori tersebut. Kalau saja kita memahami teori-teori yang ada di bawah langit ini, mungkin saja kita bisa menguasai kehidupan ini. Artinya, kita bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Kita tidak mengkhawatirkan apapun yang tidak bisa kita kendalikan dan menyerahkan sepenuhnya Pada Yang Punya Kendali.
Aku rasa hidup ini penuh dengan banyak
makna, tapi seringkali kita abai untuk memahaminya sehinga kita penuh dengan
rasa kurang, kecewa, dan terluka. Padahal kalau kita bisa memaknai kehidupan
ini dengan baik, mungkin saja hal yang buruk-tidak lagi seburuk itu, mungkin
saja masalah yang ada-tidak lagi menjadi begitu masalah, atau mungkin saja hal
yang terasa kurang-tidak lagi jadi kurang. Kita bisa berselancar dalam hidup
ini, mengarungi derunya ombak yang silih berganti, kuatnya berdiri ditengah
guntur dan badai yang kadang bukan main habis dibuatnya, tapi kita tetap
menjadi diri kita dengan segala hal baik yang kita punya. Jangan sampai hal
baik yang kita punya menjadi pudar hanya karena kita memikirkan opini orang
lain tentang kita, jangan sampai hal baik yang mau kita lakukan jadi padam
hanya karena fantasi negatif yang tercipta dipikiran kita. Kita adalah apa yang
kita pikrikan dan pikirkanlah apa yang baik kita pikirkan.
