"Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah." ―1 Korintus. 3:9
Nah, kalau misalnya kita ketemu nih sama “toxic people” itu.. coba teman-teman
bayangkan apakah kita perlu menghindari? Atau menjauhinya? Hmm. Sepertinya, kita
perlu berhati-hati. Tapi, berhati-hati disini bukannya tidak lagi menjadi
temannya atau menjauhkannya ya. Tapi, kita perlu berhati-hati dengan apa yang
kita input dalam diri kita ketika kita bersama dengan orang tersebut. Kita
perlu berhati-hati dalam meresponi setiap perkataan dan perilaku mereka. Kalau
orang itu mengganggu kita, dan memberi input yang negatif di dalam pikiran dan
emosi kita. Jangan dulu marah, atau tidak berteman lagi. Tapi kita perlu
menelaah baik-baik, apa yang bisa kita masukkan ke dalam hati dan pikiran kita.
Kita perlu bertanya, hal baik apa yang bisa aku terima dari setiap perkataan
dan prilaku mereka? Nah itulah yang perlu kita cermati dengan baik. Karena yang
bisa memfilter itu semua hanya diri kita sendiri. Jadi, kita perlu memutuskan
mana hal yang baik yang bisa kita terima dan mana yang hanya perlu diabaikan
saja.
Karena dengan siapapun sesama kita, kita harus tetap menjadi orang yang
baik dan memancarkan kasih Kristus di dalam diri kita. Ingatlah, kalau kita
kawan sekerja Allah yang bekerja diladang-Nya untuk memancarkan terang-Nya di
sekitar kita. Jadi, bagaimana pun keadaan teman-teman di sekitar lingkungan
kita, kita tetap perlu mengasihi dan menyayangi teman kita sebagaimana kita
sudah dikasihi dan disayangi oleh Tuhan Yesus itu sendiri. Kalau Tuhan Yesus
saja sudah memberikan contoh kepada kita untuk terus mengasihi sesama kita,
masa kita enggak? Jadi, kita pun harus terus mengasihi sesama kita ya.
