Bibir yang mengatakan kebenaran tetap untuk selama-lamanya, tetapi lidah dusta hanya untuk sekejap mata. ―Amsal 12:19
Teman,
kalian pernah kan merasa sedih kalau kita merasa dibohongi oleh teman kita atau
siapa pun? Rasanya kecewa, marah, dan kesel karena merasa didustai oleh
perkataan yang tidak benar. Sebenernya kita gak pengen kan digituin, tapi
kenapa ya ada aja orang yang bertingkah seperti itu? Tapi biarlah karakter
orang lain itu bisa jadi pengalaman dan pembelajaran untuk kita, kalau kita
rasa hal yang dimiliki atau dilakukan orang lain itu tidak baik, ya sudah
sesimple jangan dilakuin. Latihlah diri kita untuk melakukan yang baik-baik dan
menjadi yang baik-baik aja. Seneng kok, rasanya indah hidup sama Tuhan yang
isinya kekudusan dan kesucian hidup. Tapi, dibalik rasa seneng dan indahnya itu
tentu kita perlu berjuang. Bisa ku katakan perjuangannya itu bahkan kayak
“mati-matian” lho. “mati-matian” untuk hidup kudus dan hidup suci, bener deh
itu gak gampang banget. Menurut kalian pelajaran apa yang paling susah di
sekolah? Fisika? Matematika? Ah, itu mah masih gampang, masing bisa dikerjain,
masih bisa dapet nilai dari 10 sampai 100. Tapi pelajaran untuk menjadi kudus
dan suci itu susahnya gak ada yang nandingin.
Maka dalam
hidup ini, semuanya tuh mudah, artinya semuanya “bisa dilewati”, seenggaknya
kalau kita sampe kenapa-napa dalam hidup, at least kita masih bernapas dan
hidung kita masih satu. Tapi untuk mencapai kehidupan yang tidak bercacat dan
tidak bercela itu rasanya bener-bener deh, segenap hidup kita, seluruh
kehidupan kita tersita dan terparkir hanya untuk menyenangkan-NYA. Tapi
sayangnya, hal itu adalah hal yang terbaik dalam hidup kita, hal itu udah yang
paling baik dalam hidup kita. Kalau kalian pernah mendapat hadiah yang kalian
pikir paling baik dalam hidup kalian. Menjadi suci dan menyenangkan-NYA itu
sangat sangat, dan sangat terbaik dalam hidup. Percaya deh!
